KARAWANG, halokrw.com – Seratus tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah bangunan untuk tetap berdiri, apalagi terus bekerja tanpa henti. Namun Bendungan Walahar di Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, membuktikan sebaliknya. Dibangun pada masa kolonial pada tahun 1920–1925, bendungan yang melintang di atas Sungai Citarum ini masih menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Karawang hingga hari ini.
Sejak pertama kali dioperasikan, Bendungan Walahar dirancang untuk meninggikan muka air Sungai Citarum dan menyalurkannya ke wilayah pertanian melalui Induk Tarum Utara. Satu abad kemudian, fungsinya tidak pernah bergeser. Setiap tahunnya, aliran air dari Walahar mengairi lebih dari 174 ribu hektare sawah, menjadikan Karawang sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Jawa Barat dan penyokong pangan nasional.
Peran Walahar bahkan terus melebar. Tidak hanya menjadi tulang punggung irigasi, bendungan ini juga memasok air baku untuk layanan PDAM, serta menjadi destinasi wisata sejarah bagi masyarakat. Bangunannya yang berarsitektur klasik dan peralatan yang masih orisinal menjadi saksi perjalanan panjang pengelolaan air di Karawang.
Direktur Utama PJT II, Imam Santoso, menegaskan bahwa memasuki usia seabad, Walahar bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga contoh nyata bagaimana infrastruktur lama dapat bersinergi dengan inovasi modern.
”Melalui penerapan teknologi Smart Water Operation Management (SWOM), PJT II kini mampu memantau hidrologi secara real-time, menganalisis debit dengan lebih presisi, dan mengurangi risiko kekeringan maupun surplus air di musim ekstrem,” ungkap Imam seperti dikutip TribunJabar.co.id
Menurutnya, keberhasilan Walahar bertahan hingga 100 tahun adalah hasil sinergi antara PJT II, pemerintah, kelompok tani, dan para operator lapangan yang menjaga aliran air tetap berlangsung adil dan berkelanjutan. Karena nilai penting itu, PJT II pun tengah mengupayakan Bendungan Walahar untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.
Minggu (30/11/2025) besok, tepat seratus tahun Bendungan Walahar. Ini menjadi momentum yang tidak hanya soal perayaan usia sebuah infrastruktur, namun penghormatan terhadap warisan, dedikasi, dan kerja keras banyak generasi. Air yang mengalir dari bendungan ini telah menghidupi Karawang sejak 1925, dan dengan komitmen yang ada, aliran itu diyakini akan terus terjaga hingga seabad berikutnya.

0 Comments