KARAWANG, halokrw.com – Sudah tiga bulan Adnan hilang tanpa jejak. Waktu terasa berjalan begitu lambat bagi ibunya, Khaliza Anindya Putri, yang setiap hari memulai dan menutup harinya dengan satu doa: semoga putra kecilnya ditemukan dalam keadaan selamat.
Sejak Adnan dinyatakan hilang pada 12 September 2025, rangkaian pencarian terus dilakukan. Keluarga melapor ke polisi, menyebarkan informasi ke warga sekitar, dan melakukan pencarian ke sejumlah titik yang dianggap mencurigakan. Namun hingga kini, tak ada satu pun petunjuk kuat yang mengarah pada keberadaan anak berusia empat tahun itu.
Khaliza mengaku awalnya sempat mendengar kabar dan spekulasi bahwa Adnan “disembunyikan makhluk ghaib”. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia mulai menolak anggapan itu.
“Saya sudah nggak percaya hal-hal begitu,” ujarnya saat diwawancarai halo karawang, Rabu (26/11/2025) siang melalui ponselnya.
“Saya justru lebih yakin Adnan ini jadi korban penculikan. Karena dia hilang jam 10 pagi, pas lingkungan lagi sepi, dan terakhir terlihat sama mertua saya (kakeknya),” ujarnya.
Khaliza menuturkan, setiap kali membaca berita kasus hilangnya anak di Indonesia, terutama tragedi yang menimpa Alvaro, balita yang ditemukan meninggal setelah dilaporkan hilang, dadanya seperti diremas ketakutan.
“Saya takut banget terjadi hal yang sama kayak Alvaro. Itu yang bikin saya nggak bisa tidur, tiap hari kepikiran,” katanya.
Sebagai seorang ibu, instingnya terus berkata bahwa Adnan masih membutuhkan pertolongan. Perasaan itu bahkan hadir lewat mimpi. Hampir setiap malam, sosok kecil itu muncul.
“Sering banget saya mimpiin Adnan. Di mimpi itu kayak biasa saja, saya nyuapin dia, saya ngobrol sama dia. Tapi pas bangun, langsung kosong lagi. Rasanya sakit sekali.”
Kehilangan Adnan meninggalkan hampa di rumah. Mainannya masih ada, pakaiannya masih tersusun rapi, dan sudut-sudut tertentu masih menyimpan jejak keberadaannya. Khaliza terus berjuang meski lelah fisik dan mental tak terhindarkan.
Ia berharap polisi dan masyarakat luas tidak berhenti membantu mengawasi dan mencari informasi sekecil apa pun. Bagi Khaliza, setiap detik begitu berarti.
“Saya cuma ingin Adnan pulang. Mau bagaimana pun keadaannya. Yang penting saya bisa peluk anak saya lagi.”

0 Comments