CIKARANG, halokrw.com – Puing-puing kayu, seng, dan papan masih berserakan di bantaran Sungai Kalimalang, Selasa (16/12) siang. Di antara sisa bangunan yang rata dengan tanah, sejumlah perempuan tampak termenung. Mereka diduga merupakan pekerja seks komersial yang selama ini beraktivitas di kawasan bantaran sungai tersebut, sebelum bangunan liar tempat mereka berteduh dibongkar aparat.
Beberapa perempuan terlihat merapikan pakaian dan peralatan dapur seadanya. Barang-barang itu dikumpulkan tanpa kepastian akan dibawa ke mana. Tak jauh dari mereka, sejumlah pria tampak membantu membersihkan sisa puing bangunan, memilah material yang masih bisa diselamatkan dari reruntuhan lapak semi permanen.
Sebut saja Bunga (43), salah satu perempuan yang diduga pekerj4 s3k5 komersial di kawasan tersebut. Sejak penertiban berlangsung, ia lebih banyak duduk termenung di antara puing-puing bangunan, menatap lokasi yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya bertahan hidup.
Bunga mengaku sudah hampir tujuh tahun menempati bangunan liar di bantaran Kalimalang. Selama itu pula, ia telah beberapa kali mengalami penertiban dan pembongkaran. Namun, kondisi tersebut tak lagi membuatnya terkejut.
“Sudah sering dibongkar. Nanti juga dibangun lagi,” ucapnya singkat.
Menurut Bunga, kawasan bantaran Kalimalang telah lama menjadi tempat bergantung hidup bagi perempuan-perempuan dengan latar belakang ekonomi yang sulit. Meski menyadari aktivitas yang dijalani dan keberadaan bangunan tersebut melanggar aturan, ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan lain.
“Kalau disuruh pergi, mau ke mana? Kerja juga nggak gampang,” katanya lirih.
Penertiban bangunan liar di sepanjang bantaran Sungai Kalimalang dilakukan aparat sebagai bagian dari penegakan aturan dan penataan kawasan, termasuk menertibkan lokasi yang diduga menjadi tempat praktik penyakit masyarakat. Aparat menegaskan kegiatan serupa akan terus dilakukan secara bertahap.

0 Comments