KARAWANG, halokrw.com – Lima belas tahun telah berlalu sejak banjir besar melanda Karawang pada 2010, namun ingatan akan peristiwa itu masih melekat kuat bagi sebagian warga. Saat itu, lebih dari 8.000 rumah di tujuh kecamatan terendam akibat meluapnya Sungai Citarum, dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter hingga 3 meter di beberapa titik.
Salah satu warga yang masih mengingat jelas kejadian tersebut adalah Nurul Khasanah (34) warga Perumahan Bintang Alam, Telukjambe Timur. Ia menyebut banjir 2010 sebagai salah satu momen paling menegangkan sepanjang hidupnya.
“Air naik cepat sekali. Dalam hitungan jam, rumah sudah tenggelam sampai dada orang dewasa. Kami sekeluarga mengungsi ke rumah saudara. Sampai sekarang rasanya masih merinding kalau ingat hari itu,” kenang Nurul saat ditemui, Jumat (5/12/2025). Ia menyebut saat peristiwa banjir 2010, usianya masih 19 tahun, saat menjadi mahasiswa semester awal di salah satu universitas swasta di Bandung.
Menurutnya, setelah kejadian itu, warga Bintang Alam selalu lebih waspada setiap memasuki musim hujan.
“Kalau sudah masuk Desember, warga mulai siaga. Barang-barang penting diangkat dan pantau terus debit sungai,” begitu cerita yang pernah disampaikan Ayahnya.
Kini, ketika musim penghujan kembali datang, Nurul berharap pemerintah dan masyarakat bisa bekerja sama lebih baik untuk mencegah banjir besar kembali terjadi.
“Harapan kami sederhana, jangan sampai peristiwa tahun 2010 terulang. Berharap ada program program normalisasi sungai dan perbaikan drainase agar cegah banjir,” ucapnya.
Tidak hanya Nurul, Ardan, warga Bintang Alam lainnya, juga memiliki memori kuat terkait banjir hebat tersebut. Tinggal sejak kecil di kawasan itu, ia menyebut 2010 sebagai banjir paling parah yang pernah dialaminya.
“Saya sudah biasa dengan banjir tiap tahun, kadang cuma di depan rumah, kadang masuk sehari atau dua hari. Tapi 2010 itu beda. Air bertahan sampai lima hari lebih. Setelah surut dan rumah dibersihkan, banjir datang lagi. Rasanya seperti nggak ada habisnya,” tutur Ardan.
Peristiwa tersebut bahkan membuat keluarganya mengambil keputusan besar untuk pindah rumah.
“Setelah banjir parah itu, papa memutuskan pindah ke Bumi Karawang Baru. Tapi ternyata di sana pun masih kena banjir. Akhirnya 2019 kami pindah ke Perumnas Belok T, dan 2021 banjir datang lagi. Yang kami inginkan cuma rasa aman setiap hujan turun,” tambahnya.

0 Comments