KARAWANG, halokrw.com – Langit Karawang perlahan berubah jingga ketika anak-anak itu mulai berdatangan ke Lapangan Karangpawitan, Kamis (26/2). Sebagian menggenggam tangan temannya, sebagian lagi duduk rapi sambil menatap panggung kecil di depan mereka. Sore itu bukan sore biasa. Ada harapan yang ikut tumbuh di antara deretan kursi yang tersusun sederhana.
Di tempat itulah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Karawang kembali menggelar santunan Ramadan bagi 100 anak yatim dari berbagai wilayah. Mengusung tema “Mengukir Cinta, Berbagi di Bulan Penuh Berkah”, kegiatan ini menjadi pertemuan antara kepedulian dan kebersamaan.
Tak ada dekorasi mewah. Tak ada kemegahan berlebihan. Namun justru dalam kesederhanaan itulah terasa kehangatan yang tulus. Satu per satu anak menerima santunan. Beberapa tersenyum lebar, lainnya terlihat malu-malu. Ada yang langsung membuka bingkisan dengan mata berbinar, ada pula yang memeluknya erat seolah tak ingin lepas.
Ketua PWI Karawang, Nila Kusuma, berdiri di tengah mereka bukan sekadar sebagai pemimpin organisasi, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang ingin berbagi. Ia menyebut Ramadan sebagai waktu terbaik untuk merawat empati, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata.
“Ramadan selalu mengingatkan kita tentang rasa tanggung jawab sosial. Kami ingin anak-anak ini merasakan perhatian dan kebersamaan,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Dukungan dari berbagai mitra turut memperkuat langkah tersebut. Pertamina EP, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), serta Astra Daihatsu Motor hadir membersamai kegiatan itu. Kolaborasi ini menjadi cerminan bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh ketika banyak pihak bersedia berjalan bersama.
Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP, Wazirul Lutfi, menilai kegiatan semacam ini memperkuat nilai gotong royong yang menjadi fondasi masyarakat. Sementara Manager CSR Astra Daihatsu Motor, Yazid Alfaidzun, menyebut Ramadan sebagai momentum memperdalam rasa empati dan solidaritas.
Namun yang paling terasa bukanlah sambutan atau dokumentasi acara. Yang paling membekas justru tawa anak-anak yang pecah menjelang waktu berbuka. Di antara suara angin sore dan doa-doa yang dipanjatkan, terselip keyakinan bahwa perhatian sekecil apa pun dapat menghadirkan arti besar.
Ramadan selalu membawa pesan tentang menahan diri dan berbagi. Dan di Karangpawitan sore itu, pesan itu menemukan bentuknya, dalam seratus senyum yang pulang dengan rasa dihargai dan tidak sendiri.

0 Comments