KARAWANG, halokrw.com – Grup Artha Graha diduga melakukan penunggakan pembayaran vendor rangkaian Hari Ulang Tahun ke 393 Kabupaten Karawang senilai puluhan juta rupiah.
Tunggakan pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan Grup Artha Graha tersebut bermula ketika Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Karawang melaksanakan rangkaian perayaan HUT Kabupaten Karawang dengan menggelar karnaval mobil hias pada Jumat 18 September 2026 lalu.
Para peserta yang mengikuti karnaval mobil hias tersebut berasal dari pelbagai pihak, baik itu unsur pemerintah maupun swasta.
“Saya mendapat dua pekerjaan membuat mobil hias untuk karnaval dalam rangkaian perayaan HUT Karawang tersebut, salah satunya dari Artha Graha,”ujar Riky Arief Rahman (oEt) salah seorang vendor, Jumat 25 September 2026.
Pada waktu itu kata Riky, dirinya dihubungi oleh pihak Artha Graha supaya mengerjakan pembuatan mobil hias. Artha Graha sendiri memiliki anak perushaan bernama Artha Industrial Hills di Karawang yang menjadi peserta dalam karnaval mobil hias dalam rangkaian perayaan HUT Karawang tersebut.
Karena merasa mendapat pesanan, Riky lantas mengajukan budget pembuatan mobil hias kepada pihak Artha Graha.
Setelah diberi ajuan budget, Riky mengatakan jika pihak Artha Graha cukup lambat dalam merespon, hingga akhirnya dua pekan sebelum karnaval digelar
Kedua belah pihak akhirnya sepakat dengan harga diangka sekitar Rp46 juta. Riky lantas meminta pembayaran kepada pihak Artha Graha yang kemudian hanya dibayar Down Payment (DP) sebanyak 50 persen dari total harga pembuatan mobil hias dengan catatan bahwa termin pelunasan (50%) nya lagi dibayar setelah pekerjaan selesai.
“Itu pun dengan persyaratan yang lumayan ribet. Saya kan tidak hanya mendapat pekerjaan dari Artha Graha, tapi juga dari pihak lain. Pihak lainnya tidak serumit itu dalam melakukan pembayaran,”katanya.
Riky mengatakan, proses produksi mobil hias dilakukan di workshop dirinya yang berada di Bandung. Proses produksi ini meliputi Proses pembuatan struktur atau rangka sebagai Base untuk pemasangan modul atau elemen dekor, produksi modul, partisi atau elemen dekor dan Covering yakni beberapa modul ditempel Digital Printing dengan desain gambar,motif bahkan letering yang sesuai dengan tema Mobil Hiasnya.
Pekerjaan pun akhirnya rampung, Modul dekor mobil hiasnya dikirim ke Karawang beberapa hari sebelum pelaksanaan karnaval. Pihak Artha Graha sendiri mendatangi tempat Produksi mobil hiasnya dikantor Disdikpora Karawang.
“Waktu itu,tgl 17 tepatnya (sehari sebelum acara digelar)ada dua orang yang datang dari Artha Industrial Hill. Mereka hanya datang mengobrol sebentar kemudian pergi lagi tanpa melakukan pengecekan hasil pekerjaan,”imbuhnya.
Mobil hias tersebut pun turut dalam karnaval mobil hias pada 18 September 2026 malam. Karena pekerjaan merasa telah rampung, Riky lantas meminta pelunasan kepada pihak Artha Graha pada malam tersebut, akan tetapi tidak direspon sama sekali.
“Baru direspon beberapa hari kemudian. Mereka mengatakan ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi. Dokumen tersebut tidak ada dalam Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) dan tidak pernah dikomunikasikan dari awal,”katanya.
Dokumen yang harus disiapkan tersebut kata Riky meliputi berita acara pengecekan pekerjaan, berita acara pemeriksaan pekerjaan termasuk berita acara serah terima lahan (BAST,BAPP,BASL)
“Yang heran, ini kan pembuatan mobil hias, kenapa harus ada berita acara serah terima lahan. Ditambah juga berita acara lainnya, kan sebelum pelaksanaan ada dari pihak Artha Industrial Hill yg melakukan pengecekan ke workshop (Disdikpora) kenapa tidak sekalian meminta berita acara saat mereka datang,”ujarnya.
Permintaan tersebut akhirnya dipenuhi oleh Riky karena terpaksa supaya pihak Artha Graha segera melakukan pelunasan pekerjaan yang bernilai Rp22 juta lebih sesuai dengan SPK yang dibuat oleh pihah Artha Graha.
Bahkan dalam SPK tersebut diterangkan juga pelunasan akan dibayarkan setelah pekerjaan dan acara selesai setelah vendor menyertakan data dukung berupa Invoice, BAST & photo Hasil terakhir Mobil Hiasnya.
Akan tetapi hingga saat ini pihak Artha Graha belum juga melakukan pelunasan, sejumlah pesan singkat yang dikirim oleh Riky kepada pihak manajemen perusahaan tersebut juga lambat direspon.
Akibat dari belum dibayarkannya pekerjaan mobil hias tersebut, Riky harus menunggak para pekerja di bawahnya juga vendor lain.
“Ada beberapa vendor lain yang juga terlibat dalam pengerjaan mobil hias, seperti sewa taman,sewa mobil towing dan lainnya. Mereka telah menagih ke saya, tapi karena belum ada pelunasan dari Artha Graha saya juga tidak bisa membayar. Uang DP itu habis untuk membeli material dan biaya operasional selama produksi di Bandung dan instal dan finishing hias mobilnya di Karawang katanya.
Dia berharap pihak Artha Graha segera melakukan pelunasan atas pekerjaan yang telah diselesaikan oleh Riky dan rekan.
“Bagi saya uang Rp22 juta lebih itu sangat besar, apalagi itu juga ada hak para pekerja saya yang gajinya belum bisa dibayarkan. Kalau bagi perusahaan sekelas Artha Graha itu jumlah kecil. Tapi kenapa harus seribet dan selambat ini,”tutup Riky.

0 Comments