Tentang Seorang Pria yang Menunggu di Dekat Tong Sampah, dan Perempuan yang Mengubah Hidupnya


Kalau ada lomba mencari titik temu paling tidak romantis untuk bertemu perempuan yang disukai, saya rasa saya punya peluang masuk tiga besar.

Sebab pada akhir tahun 2016, ketika sedang PDKT dengan seorang perempuan yang kini menjadi istri saya, saya memilih menunggunya di dekat tong sampah.

Ya, tong sampah.

Lokasinya di lantai dasar KCP.

Sebelum Anda berpikir saya sama sekali tidak punya jiwa romantis, izinkan saya menjelaskan.

Tong sampah itu berada di lokasi yang sangat strategis. Tepat di dekat pintu masuk dan tidak jauh dari eskalator menuju lantai dua. Orang yang baru masuk mal pasti melewatinya. Begitu pula mereka yang turun dari eskalator.

Kalau tujuan seseorang hari itu adalah mencari saya, kemungkinan besar dia akan langsung menemukannya.

Secara strategi, keputusan itu nyaris sempurna.

Secara romantis, tentu saja bencana.

Saat itu kami belum berpacaran. Masih berada di fase PDKT—fase yang aneh sekaligus menyenangkan.

Setiap hari saling berkirim pesan.

Saling mengabari.

Saling mengingatkan untuk makan.

Tetapi kalau ada yang bertanya, “Jadi kalian pacaran?”

Jawabannya masih berputar-putar seperti politisi menjelang pemilu.

Karena masih PDKT, saya datang lebih awal. Berdiri di dekat tong sampah sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk.

Tak lama kemudian, ponsel saya berbunyi.

Pesan WhatsApp masuk.

“Kamu nunggu di mana?”

Saya bahkan tidak membutuhkan waktu lima detik untuk membalas.

“Di tong sampah.”

Sudah.

Dua kata saja.

Tidak ada usaha memperhalus keadaan.

Tidak ada kalimat, “Aku di dekat lobi.”

Tidak ada, “Aku di dekat eskalator.”

Apalagi, “Aku pakai baju hitam.”

Langsung saja.

“Di tong sampah.”

Beberapa tahun kemudian, setelah kami menikah, dia mengaku sempat tertawa ketika membaca pesan itu.

Dan saya bisa memahaminya.

Sebab siapa juga yang sedang berusaha menarik hati seorang perempuan, tetapi memilih tong sampah sebagai identitas lokasi?

Kalau ini film Ada Apa Dengan Cinta?, saya jelas bukan Rangga.

Setahu saya, Rangga tidak pernah mengirim pesan kepada Cinta, “Aku di tong sampah.”

Kalau adegan itu benar-benar ada, mungkin penontonnya bukan dibuat baper.

Melainkan tertawa.

Untungnya, perempuan yang saya tunggu hari itu tidak membatalkan pertemuan.

Dia tetap datang.

Dan syukurlah.

Sebab kalau hari itu dia memutuskan pulang, mungkin tulisan ini tidak akan pernah ada.

Hari itu kami hanya melakukan hal-hal sederhana seperti kebanyakan anak muda.

Berjalan-jalan.

Mengobrol.

Lalu makan nasi goreng.

Lucunya, dari sekian banyak hal yang terjadi hari itu, justru ada satu detail yang masih saya ingat sampai sekarang.

Nasi gorengnya tidak habis.

Baca Juga:  Anak Punk Korban Pembacokan di Telagasari Karawang Masih Dirawat di RS, Bukan Meninggal

Yang tidak habis bukan nasi goreng saya.

Melainkan nasi gorengnya.

Katanya sudah kenyang.

Saya percaya saja.

Maklum, waktu itu saya masih berada pada fase ketika apa pun yang diucapkan perempuan yang disukai terdengar masuk akal.

Baru setelah menikah saya sadar, saat kencan pertama banyak perempuan memiliki bakat alamiah untuk terlihat elegan.

Termasuk ketika makan.

Saya tidak mengatakan dia jaim.

Saya hanya bilang… kemungkinan itu ada.

Dan peluangnya cukup besar.

Sebab setelah menikah, saya tidak pernah lagi melihat fenomena nasi goreng tidak habis demi menjaga citra.

Justru lebih sering saya yang kalah cepat menghabiskannya.

Aneh memang.

Dari sekian banyak kenangan yang bisa disimpan otak manusia, otak saya memilih menyimpan informasi tentang seorang perempuan yang tidak menghabiskan nasi gorengnya hampir sepuluh tahun lalu.

Mungkin memang begitu cara kerja kenangan.

Ia tidak selalu menyimpan peristiwa-peristiwa besar.

Kadang justru hal-hal receh yang tampaknya tidak penting, tetapi bertahan paling lama.

Waktu terus berjalan.

PDKT itu naik pangkat menjadi pacaran.

Pacaran kemudian berkembang menjadi pernikahan.

Kini kami telah memiliki seorang anak.

Sesekali kami masih datang ke KCP.

Kadang untuk makan.

Kadang membeli sesuatu.

Kadang hanya karena kebetulan sedang berada di sekitar sana.

Dan setiap kali melangkah memasuki lantai dasarnya, saya selalu teringat satu hal.

Bahwa keluarga kecil yang saya miliki hari ini, secara tidak langsung, berawal dari seorang laki-laki yang berdiri di dekat tong sampah dan menjadikannya sebagai titik temu.

Terdengar konyol.

Tetapi hidup memang sering bekerja dengan cara seperti itu.

Hal-hal besar kadang lahir dari peristiwa yang saat itu tampak sangat biasa.

Hari ini KCP genap berusia 14 tahun.

Selama empat belas tahun itu, entah sudah berapa banyak orang yang datang dan pergi.

Berapa banyak yang berkenalan.

Berteman.

Jatuh cinta.

Lalu, mungkin, membangun keluarga.

Saya kebetulan menjadi salah satunya.

Karena bagi banyak orang, KCP mungkin hanyalah sebuah pusat perbelanjaan.

Namun bagi saya, KCP akan selalu menjadi tempat ketika seorang perempuan bertanya,

“Kamu nunggu di mana?”

Lalu mendapatkan jawaban paling tidak romantis yang mungkin pernah ia terima.

“Di tong sampah.”

Dan anehnya…

Dari situlah semuanya dimulai.

Selamat ulang tahun ke-14, KCP.

Terima kasih telah menjadi saksi bisu dari sebuah cerita yang mungkin biasa bagi orang lain, tetapi akan selalu istimewa bagi kami.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments